Jumat, 12 April 2013 - 09:25:08 WIB
PEKANBARU - Limbah industri dan rumah tangga yang mencemari sungai Siak mengakibatkan sebanyak 103 jenis ikan terancam kelestariannya, sepanjang sepuluh tahun ini. Bahkan, spesies ikan sangat sensitif terhadap pencemaran limbah tersebut kini sudah punah ranah.

Hal ini disampaikan Pareng Rengi MSi, praktisi lingkungan saat ditemui di Kampus UR Gobah, Jalan Pattimura di Pekanbaru, Jumat (12/4). "Adanya timbal berbahaya ini, membuat sejumlah spesies ikan di perairan sungai siak menjadi punah ranah. Ini akibat adanya kandungan timbal yang mengalami peningkatan secara drastis sepanjang tahun," sebutnya.

Pareng juga menjelaskan bahwa pencemaran logam berat berupa timbal menjadi beban bagi 1,078 juta warga yang tinggal di sepanjang sungai Siak. Dampaknya tentu berpotensi keracunan timbal tersebut. Meski kondisi kualitas air sungai Siak tak laik, namun hingga kini, perusahaan daerah air minum Tirta Siak Pekanbaru, tetap menjadi pilihan sebagai sumber air.

''Ini yang disayangkan, kualitas air sungai Siak memang mengalami penurunan saban tahun. Apalagi sebagian besar logam berat banyak ditemukan di beberapa kawasan di sekitar hulu bahkan hilir,'' terangnya.
Kandungan timbal tersebut, tambahnya, banyak dijumpai di dermaga - dermaga umum dan pemerintah dari gas bahan bakar minyak kapal dan perahu motor. Ditakutkan lagi keracunan tersebut akan berdampak pada masyarakat yang menggantungkan hidupnya di sepanjang sungai Siak ini.

Berdsarkan data, kata Pareng lagi, tingginya timbal terkandung di sungai Siak ini mengakibatkan matinya 1,5 ton ikan dan udang pada Juni 2004 lalu. Kasus ini terjadi pada anak sungai Bangso di Kecamatan Tapung, Kampar sampai ke Jembatan Sungai Siak II, Pekanbaru. Ikan-ikan tersebut mati akibat kekurangan oksigen terlarut (DO).
"Belum lagi, proses abrasi yang menimbulkan endapan pasir (sedimentasi) akibat adanya alih fungsi lahan di tepian sungai. Pendangkalan sungai Siak ini terjadi akibat pengalihan hutan alami menjadi perkebunan kelapa sawit," jelasnya.

Alih fungsi lahan juga mendukung abrasi sungai Siak, terangnya, sehingga  hal ini mempengaruhi kehidupan masyarakat dan makhluk hidup di sepanjang wilayah pesisir. ''Sedimentasi yang menimbulkan pendangkalan sungai Siak terjadi akibat alih fungsi lahan, dari hutan alam dan karet berubah menjadi kebun sawit. Ini harus ditinjau ulang fungsi dan peruntukkan lahannya,'' ingatnya.(doris)

0 komentar:

Posting Komentar

Related Post